Yayasan Dharma Bhakti Astra Yayasan Dharma Bhakti Astra
18 November 2022 Artikel

PEMIMPIN UMKM VERSUS KRISIS IKLIM

Sumber: Bay Ismoyo/AFP/Pool/Getty Images

Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 baru saja dihelat di Indonesia. Salah satu isu prioritas yang diangkat adalah transisi ekonomi keberlanjutan. Secara umum, diambilnya isu ini erat kaitannya dengan kondisi krisis iklim dunia saat ini. Kepala negara, baik presiden, raja, ataupun perdana menteri menjadi pemangku kebijakan strategis untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk menjadikan dunia lebih kontributif terhadap penciptaan iklim bumi yang lebih sehat.

Pemimpin menjadi pihak yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kondisi bumi saat ini. Perannya dalam menentukan kebijakan menjadi langkah akseleratif menghentikan krisis iklim sesegera mungkin. Dalam level yang lebih kecil, misalnya para pemimpin perusahaan ataupun UMKM perlu merespons kondisi ini lebih bijak, termasuk menyusun skema keberlanjutan yang berorientasi pada penghentian krisis iklim di organisasinya masing-masing.

Melansir dari laporan World Economic Forum (WEF) yang berkolaborasi dengan Boston Consulting Group (BCG), melihat preferensi konsumen saat ini, para pemimpin yang melakukan transformasi iklim dalam model bisnisnya akan membuka peluang dan keuntungan dalam beberapa sektor. Konteks perekonomian pada pengertian tersebut turut dapat dikolaborasikan dalam berbagai level, termasuk UMKM yang perlu dipimpin oleh sosok pemimpin iklim; pemimpin yang memiliki orientasi untuk menghentikan krisis iklim.

Pemimpin Iklim dapat Menarik Talenta Unggul

Survei Desember 2020 oleh BCG menunjukkan bahwa sekitar setengah dari total karyawan di jaringannya menjadikan isu “keberlanjutan” sebagai alasan untuk menentukan perusahaan mana yang ingin dijadikannya sebagai tempat kerja. Setahun sebelumnya, survei dari Accenture Chemicals Global Consumer Sustainability memperlihatkan bahwa terdapat 40% milenial yang memilih perusahaan untuk bekerja yang memiliki orientasi terhadap keberlanjutan/berkontribusi positif terhadap iklim, dan ada 30% milenial yang memilih untuk meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja karena mereka tidak memiliki rencana keberlanjutan.

Kumpulan survei di atas dapat didefinisikan bahwa para talenta unggul yang analitis dan memiliki wawasan global (terutama terkait iklim) mempertimbangkan pilihannya terkait tempat kerja dan bosnya. Untuk menarik talenta ini, penting bagi pemimpin termasuk di level UMKM, untuk menyuarakan penghentian krisis iklim sebagai orientasi organisasinya.

Pemimpin Iklim Memengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Perusahaan

Melansir laporan WEF, produk pengganti daging dari berbahan nabati di Amerika Serikat dalam rentang 2017–2020 naik 16% lebih cepat penjualannya dibanding penjualan daging hewan. Selain itu, secara global dari 2016–2019, penjualan kendaraan listrik meningkat 26% setiap tahunnya, dan yang konvensional turun 2% per tahun.

Tingginya minat masyarakat saat ini terhadap produk yang berorientasi pada iklim, merefleksikan pentingnya inovasi dan perubahan perusahaan terhadap keluaran produknya. Pemimpin termasuk di level UMKM amat disarankan untuk melakukan terobosan produk yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekaligus mampu menjadi akselerasi dalam penghentian krisis iklim.

Pemimpin Iklim Memangkas Biaya Lebih Hemat

Sering kali penggunaan energi terbarukan diidentifikasi sebagai langkah yang mahal. Namun, laporan WEF menunjukkan efektivitas pemanfaatan energi terbarukan dalam memangkas biaya perusahaan. Pemimpin iklim termasuk dalam level UMKM amat mungkin mengurangi biaya sambil memotong emisi, mulai dari penggunaan peralatan berbasis prinsip keberlanjutan, ataupun mengganti energi kotor menjadi energi terbarukan. 

Analisis BCG dari proyek dekarbonisasi aktual menunjukkan bahwa perusahaan di seluruh dunia pada dasarnya mampu mewujudkan penghematan biaya yang signifikan melalui dekarbonisasi. Untuk menunjang hal ini, penting bagi pemimpin iklim di organisasi memiliki pengetahuan dan langkah strategis dalam penerapan mekanisme ekonomi hijau di tiap kebijakan yang diambil.

Baik dari bidang talenta, pertumbuhan ekonomi, dan penghematan biaya, pemimpin yang berorientasi untuk menghentikan krisis iklim menunjang tumbuhnya perusahaan di level besar ataupun UMKM ke arah yang lebih baik dan signifikan. Konteks ini juga amat erat dengan tanggung jawab sosial yang perlu dimiliki para pemimpin UMKM terhadap lingkungan, termasuk berkontribusi lebih besar terhadap keberlanjutan.  

Artikel Terkait

Sumber: Freepik.com

MENJAGA HUBUNGAN DENGAN PELANGGAN

30 November 2022

Freepik.com

Digitalisasi UMKM: Pentingkah Untuk Dimulai?

25 Oktober 2022

Kredit: freepik.com/yanalya

Praktik Negosiasi Bagi UMKM: Mengusahakan Tujuan Lewat Percakapan

 

06 Oktober 2022
Shutterstock/Nito

Indonesia: Si Pembuang Makanan di Garis Kelaparan

Berdasarkan Gl...

19 September 2022